Teori Kognitivisme

Istilah “cognitive” berasal dari kata cognition yang padanannya knowing, berarti mengetahui. Dalam arti luas cognition ialah perolehan, penataan, dan penggunaan pengetahuan. Dalam perkembangan selanjutnya, istilah kognitif menjadi popular sebagai salah satu domain ranah psikologis manusia yang meliputi setiap perilaku mental yang berhubungan dengan pemahaman, pertimbangan, pengolahan informasi, pemecahan masalah, kesenjangan, dan keyakinan. Ranah kejiwaan yang berpusat di otak ini juga berhubungan dengan konasi (kehendak) dan afeksi (perasaan) yang bertalian dengan ranah rasa.

Teori kognitivisme pada dasarnya rasional, dengan asumsi filosofis yaitu The way in which we learn, dengan tokohnya antara lain Jean Piaget, Jerome S. Bruner, Wolfgang Kohler, Gagne, dan Ausebel.

Ahli kognitivisme berkeyakinan bahwa proses perkembangan kognitif manusia mulai berlangsung sejak ia baru lahir. Bekal dan modal dasar perkembangan manusia, yakni kapasitas motor dan kapasitas sensori ternyata sampai batas tertentu, juga dipengaruhi oleh aktivitas ranah kognitif. Pendayagunaan kapasitas ranah kognitif manusia sudah mulai berjalan sejak manusia itu mulai mendayagunakan kapasitas motor dan sensorinya. Hanya, cara dan intensitas pendayagunaan kapasitas ranah kognitif tersebut tentu masih belum jelas benar. Argumennya, bahwa kapasitas sensori dan jasmani seorang bayi yang baru lahir tidak mungkin dapat diaktifkan tanpa aktivitas pengendalian sel-sel otak bayi tersebut. Hasil risetnya menyebutkan bahwa semua bayi manusia sudah berkemampuan menyimpan informasi-informasi yang berasal dari penglihatan, pendengaran, dan informasi-informasi lain yang diserap melalui indera-indera lainnya, dan mampu merespons informasi-informasi tersebut secara sistematis.

Selanjutnya Jean Piaget (1896-1980) mengklasifikasikan perkembangan kognitif anak menjadi empat tahapan, yaitu:

  1. Tahap sensory-motor yakni perkembangan ranah kognitif yang terjadi pada usia 0 – 2 tahun.

Selama perkembangan dalam tahap ini, intelegensi yang dimiliki anak tersebut masih berbentuk primitive dalam arti masih didasarkan pada perilaku terbuka. Meskipun primitive dan terkesan tidak penting, intelegensi sensori-motor sesungguhnya merupakan intelegensi dasar yang amat berarti karena ia menjadi fondasi untuk tipe-tipe intelegensi tertentu yang akan dimiliki anak tersebut kelak.

Intelegensi sensori-motor dipandang sebagai intelegensi praktis yang berfaidah bagi anak usia 0-2 tahun untuk belajar berbuat terhadap lingkungannya sebelum ia mampu berpikir mengenai apa yang sedang ia perbuat. Anak pada periode ini belajar bagaimana mengikuti dunia kebendaan secara praktis dan belajar menimbulkan efek tertentu tanpa memahami apa yang sedang ia perbuat kecuali hanya mencari cara melakukan perbuatan seperti di atas.

Dalam rentang usia antara 18 hingga 24 bulan, barulah kemampuan mengenal object permanence anak tersebut muncul secara bertahap dan sistematis, sehingga benda-benda mainan dan orang-orang yang biasa berada disekitarnya akan ia cari dengan sungguh-sungguh bila ia memerlukannya.

  1. Tahap pre-operational yakni perkembangan ranah kognitif yang terjadi pada usia 2 – 7 tahun

Perkembangan ini bermula pada saat anak telah memiliki penguasaan sempurna mengenai object permanence. Artinya anak tersebut sudah memiliki kesadaran akan tetap eksisnya suatu benda yang harus ada atau biasa ada, walaupun benda tersebut sudah ia tinggalkan, atau sudah tak dilihat dan tak didengar lagi. Jadi, eksistensi benda tersebut berbeda dengan periode sensori-motor, tidaklagi bergantung pada pengamatannya belaka.

Perolehan kemampuan berupa kesadaran terhadap eksistensi ketetapan adanya benda adalah hasil dari munculnya kapasitas kognitif baru yang disebut representation atau mental representation (gambaran mental). Representasi adalah sesuatu yang mewakili atau menjadi symbol atau wujud sesuatu yang lainnya. Representasi mental merupakan bagian penting dari skema kognitif yang memungkinkan anak berpikir dan menyimpulkan eksistensi sebuah benda atau kejadian tertentu walaupun benda atau kejadian itu berada diluar pandangan, pendengaran, atau jangkauan tangannya.

Representasi mental memungkinkan anak untuk mengembangkan defarred-imitation (peniruan yang tertunda) yakni kapasitas meniru perilaku orang lain yang sebelumnya pernai ia lihat untuk merespons lingkungan. Seiring dengan itu, muncul pula gejala insight-learning, yakni gejala belajar berdasarkan tilikan akal. Dalam hal ini anak mulai mampu melihat situasi problematic yakni memahami bahwa sebuah keadaan mengandung masalah, lalu berpikir sesaat. Dalam periode ini, selain diperolehnya kapasitas-kapasitas seperti tersebut di atas, yang juga sangat penting ialah diperolehnya kemampuan berbahasa. Anak mulai mampu menggunakan kata-kata yang benar dan mampu pula mengekspresikan kalimat-kalimat pendek tetapi efektif.

  1. Tahap concrete-operational yang terjadi pada usia 7 – 11

Dalam periode ini, anak memperoleh kemampuan yang disebut system of operations (satuan langkah berpikir). Kemampuan ini berfaedah bagi anak untuk mengkoordinasikan pemikiran dan idengan dengan peristiwa tertentu ke dalam system pemikirannya sendiri. Satuan langkah berpikir anak kelak akan menjadi dasar terbentuknya intelegensi intuitif. Intelegensi menurut Piaget buka sifat yang biasanya digambarkan dengan skor IQ. Intelegensi adalah proses, tahapan atau langkah operasional tertentu yang mendasari semua pemikiran dan pengetahuan manusia, disamping merupakan proses pembentukan pemahaman.

Dalam intelegensi operasional anak yang sedang berada pada tahap ini terdapat system operasi kognitif yang meliputi : 1) conservation, yakni kemampuan dalam memahami aspek-aspek kumulatif materi sepreti volume dan jumlah. 2) addition of classes, yakni kemampuan dalam memahami cara mengkombinasikan beberapa golongan benda yang dianggap berkelas lebih rendah, seperti mawar, dan melati, dan menghubungkannya dengan golongan benda yang berkelas lebih tinggi, seperti bunga. 3) multiplication of classes, yakni kemampuan yang melibatkan pengetahuan mengenai cara mempertahankan dimensi-dimensi benda untuk membentuk gabungan golongan benda.

  1. Tahap formal-operational yakni perkembangan ranah kognitif yang terjadi pada usia 11 – 15 tahun.

Dalam tahap ini, anak yang sudah menjelang atau sudah menginjak masa remaja, akan dapat mengatasi masalah keterbatasan pemikiran konkret-operasional. Tahap perkembangan kognitif terakhir yang menghapus keterbatasan-keterbatasan tersebut sesungguhnya tidak berlaku bagi remaja hingga usia 15 tahun, tetapi juga bagi remaja dan bahkan orang dewasa yang berusia lebih tua.

Dalam tahap ini, anak memiliki kemampuan mengkoordinasikan baik secara simultan (serentak) maupun berurutan dua ragam kemampuan kognitif yakni kapasitas menggunakan hipotesis dan kapasitas menggunakan prinsip-prinsip abstrak. Dengan kapasitas menggunakan hipotesis seorang remaja akan mampu berpikir hipotesis, yakni berpikir mengenai sesuatu khususnya yang relevan dengan lingkungan yang ia respons. Sedangkan dengan kapasitas menggunakan prinsip-prinsip abstrak, remaja tersebut akan mampu mempelajari materi-materipelajaran yang abstrak.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s